• Cell/WA:+62 (0)813 4080 9079
  • booking@lombokbulanmadu.com

Tag Archive pantai tangsi

Desa Nelayan Tanjung Luar – Lombok Timur

Tanjung Luar merupakan salah satu desa yang ada di kecamatan Keruak, kabupaten Lombok Timur, provinsi Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Desa merupakan satu dari 4 desa dan kelurahan yang berada di kecamatan Keruak.

Desa ini memiliki jumlah penduduknya sebagian besar bersuku daerah Sasak, Bugis dan Bajau . Terletak di bagian timur pulau Lombok.

Bagi yang menyukai fotografi, Anda tidak boleh melewatkan kesempatan berkunjung ke Pelabuhan Tanjung Luar. Berangkatlah jam 5 pagi ke lokasi dan Anda akan disuguhi suasana pasar ikan yang ramai sekali. Para nelayan menurunkan hasil tangkapan mereka. Kemudian ikan-ikan yang sudah ditangkap di bawa ke tempat pelelangan yang sudah ditunggu oleh para pembeli. Ikan yang dijual disini mulai dari ikan yang biasa kita lihat dipasaran hingga ikan berukuran besar (giant fish) seperti hiu.

Segala jenis isi laut, ikan hasil tangkapan bebas diperjual belikan. Mulai dari Udang, Kepiting, Kerang, Tiram, Cumi, Sotong, Tenggiri, Gurita, Baronang, Tongkol maupun Pari, Tersedia juga, ikan teri yang menjadi makanan kegemaran saya. Ikan – ikan itu, dijual dalam keadaan hidup maupun sudah diasinkan. Tak ketinggalan, jenis-jenis ikan mahal kualitas ekspor seperti Krapu, Traveli, Marlin, Cakalang bahkan Potongan Tuna. Ikan – ikan itu seolah dipamer dengan berbagai ukuran dan harga variatif. Ikan dengan ukuran besar biasanya dipotong kecil, namun banyak yang dijual dalam keadaan utuh tanpa goresan pisau.

Ikan hiu yang diperdagangkan di pelabuhan ini merupakan hasil tangkapan nelayan setempat yang khusus berburu hingga ke perairan lepas di Samudera Hindia atau perairan Laut Flores. Di pelabuhan ini setidaknya ada 67 unit kapal nelayan yang 40 diantara berburu hiu. Jenis ikan hiu yang biasanya ditangkap oleh para nelayan adalah Hiu Loreng, Hiu Kejen, Hiu Lonjor dan Hiu Tikus.Khusus untuk ikan yang berbadan besar, para nelayan umumnya sudah memiliki pemesan tetap. Sirip hiu diekspor ke Hongkong sedangkan insang Manta Ray dikapalkan ke sebuah pabrik kosmetik di Surabaya. Tanjung luar juga merupakan wilayah permukiman masyarakat Bugis yang tinggal di rumah-rumah bertiang.

Jika beruntung Anda dapat menyaksikan ritual warga Dusun Toroh Selatan Desa Tanjung Luar Kecamatan Keruak melakukan Nyalamak Dilau yakni melarung kepala kerbau (Ditiba Tikolok) ke lokasi batu karang di tengah laut. Nyalamak Dilau berarti selamatan laut atau bisa pula disebut sebagai Nyalama Palabuang. Selamatan ini sebagai bentuk rasa syukur sekaligus pengharapan agar hasil ikan tangkapan mereka meningkat. Prosesi yang digelar masyarakat keturunan Suku Bajo tersebut sudah dilakukan secara turun temurun sejak 400 tahun silam.

Persiapan yang harus dilakukan untuk menggelar ritual ini adalah menyiapkan kepala kerbau yang sudah dipotong 3 hari sebelumnya. Tanduk dan gigi kerbau itu dihias dengan benang emas seberat 0,5 grams dan diletakkan didalam tempat yang ditutup dengan kain putih. Prosesi ini bertujuan untuk memohon kepada Allah agar dijauhkan dari marabahaya serta penyakit. Saat ritual Nyalamak Dilau akan dimulai, di pantai ratusan perahu penduduk sudah mengunggu untuk mengiringi dua sampan yang disatukan sebagai tumpangan iring-iringan kepala kerbau tersebut. Gendang, gong, dan seruling sebagai perlengkapan musikpun dimainkan. Biasanya irama magis tersebut selalu membuat beberapa orang warga mengalami kesurupan atau kandongkoang. Sesampaianya di lokasi batu karang, kepala kerbau itu dilepas oleh Sandro Daeng Abas (pawang/dukun). Pembuangan ke batu karang mengantung arti pentingnya habitat ikan sehingga tidak boleh dirusak. Sorak sorai warga menyertai iring-iringan perahu tersebut.

Tiga hari setelah melarung kepala kerbau dan atas seizin Sandro, para nelayan setempat baru boleh melaut kembali. Jika ada yang melanggar aturan ini akan diberikan sanksi denda dan penyiataan seluruh hasil tangkapan laut. Tradisi ini biasanya dilakukan pada bulan Muharram. Biaya yang digunakan untuk menggelar prosesi ini tidaklah sedikit yakni sekitar Rp. 35 juta.

 

Desa Adat dan Wisata Karang Bayan – Lombok Barat

Budaya Hindu di Desa “Muslim” Karang Bayan.
Menelusuri Budaya Hindu di Desa Karang Bayan Karang Bayan merupakan sebuah desa yang berada di Lingsar, Kabupaten Lombok Barat. Desa ini merupakan salah satu desa yang sangat kaya akan hasil alam. Baik pertanian maupun perkebunannya. Kehidupan sosial yang masih sangat kental dengan gotong royongnya membuat suasana masyarakat yang penuh dengan kekeluargaan tergambarkan ketika di dalam satu keluarga sedang mempesiapkan acara sakral di desa tersebut.

Desa Karang Bayan tidak sepopuler desa wisata lainnya memang. Namun ia menawarkan keindahan alam dan kehidupan tradisional untuk dilihat.

Desa dibawah perbukitan ini terletak di Kecamatan Lingsar yang dapat dicapai dalam 10 menit dengan mobil dari Cakranegara. Daerah yang subur ini sumber dari mata air Kayangan dan Pancor Ancak. Mereka adalah sumber air bagi warga desa. Untuk mencapai kedua mata air, anda harus berjalan sekitar 30 menit dari pemukiman desa. Sepanjang jalan, Anda bisa merasakan suasana segar hutan tropis. Anda bisa mendengar berbagai burung bersenandung dan gemericik air sungai, Anda bisa melihat beberapa buah-buahan tropis menggantung pada batang dan terkagum2 dengan penduduk desa yg ramah berjalan sambil membawa kering kayu atau hasil panen di kepala dan bahu mereka.

Selain melakukan soft trekking di sekitar bukit, Anda juga dapat mengunjungi beberapa bangunan bersejarah di tempat ini.

Secara historis, Karang Bayan merupakan salah satu daerah yang dijajah oleh Karang Asem Raya. Hal ini juga dikenal sebagai salah satu daerah percaya Islam Waktu Telu. Menurut sesepuh di desa ini, mereka percaya bahwa nenek moyang mereka berasal dari Bayan, salah satu kecamatan di bagian utara Lombok yang merupakan pusat kepercayaan Islam Waktu Telu. Asumsi ini diperkuat dengan dialek Sasak yang sama digunakan dalam Karang Bayan dan Bayan, dengan kemiripan nama desa ini dan kemiripan bentuk bangunan bersejarah yang masih berdiri di tengah-tengah desa.

Ada 4 bangunan tradisional tetap yaitu Bale Adat, Sekenem, Bangaran dan Masjid. Di masa lampau, Bale Adat digunakan sebagai tempat berkumpul di mana penduduk desa diskusi kegiatan sosial mereka. Sekarang tempat ini dihuni oleh generasi ke-5 dari kepala desa. Bale Adat hanya terdiri dari satu ruangan dan teras. Di depan rumah ini, ada Sekenem. Sekenem adalah ruang tamu. Dalam sekenem, ada berugaq mana tamu bisa beristirahat.

Di balik Bale Adat berdiri Bangaran. Bangaran adalah monumen yang melambangkan batu pertama diletakkan ketika pertama kali nenek moyang Karang Bayan dibangun desa ini. Bangaran berasal dari kata “Bangar”. Ini berarti untuk melakukan deforestasi. Hanya beberapa langkah ke selatan dari Bale Adat, masjid sepi masih berdiri dan dilingkari oleh pagar bambu tersebut. Arsitektur ini paling mirip dengan Masjid Beleq di Bayan, Lombok Utara. Di depan masjid, ada sisa bangunan. Itu adalah dapur yang digunakan sebagai tempat persiapan sebelum memasuki masjid.

Islam Waktu Telu sangat dipengaruhi oleh budaya Bali. Hal ini secara eksplisit digambarkan dalam beberapa tradisi yang dilakukan oleh orang-orang di Karang Bayan yaitu Kikiran. Kikiran adalah metatah di Bali-tradisi yang bertujuan untuk tubuh manusia murni dengan flatting gigi mereka. Selain itu, hubungan harmonis antara Bali dan Sasak Islam Waktu Telu dapat dilihat dalam tradisi yang disebut Pijian. Pijian adalah tanda terima kasih yang diberikan kepada Hindust dari Sasak Karang Bayan untuk menghadiri acara tertentu. Pijian terdiri dari sawah, bumbu dan kelapa. Umumnya, itu diberikan ketika Sasak Karang Bayan mengirim undangan mereka.

Karang bayan merupakan desa yang dimana merupakan salah satu desa yang memiliki akulturasi budaya hindu yang masih kuat di Lombok, karena pada jaman dulu raja Karang Asem bali pernah menguasai desa tersebut, dimana masyarakatnya merupakan menganut agama islam dan beberapa dari mereka masih menganut watu telu . Karang bayan sendiri merupakan desa yang kepercayaannya merupakan ajaran dari tokoh agama islam yang ada di Bayan, KLU.
Tak ayal dari segi bahasa dan arsitektur masjid kuno peninggalannya, hampir memiliki persamaan dengan Masjid Kuno Bayan di KLU. Terlepas dari itu,desa Karang Bayan sendiri memiliki adat yang tak terlepas dari budaya hindu pada umumnya. Diantara adat hindu tersebut adalah Pijian dan Kikiran.

1. Pijian
Pijian merupakan adat dari masyarakat di desa Karang Bayan memberikan hadiah dari keluarga (muslim)kepada keluarga (hindu) di Karang Bayan, ini merupakan salah satu cara untuk mengundang keluarga (hindu) untuk datang ke acara yang salah satu keluarga (muslim) akan adakan di desa tersebut. Biasanya Pijian ini di antar pada saat 2 hari sebelum acara tersebut dimulai. Acara seperti nyongkolan (prosesi pernikahan) merupakan moment yang dimana pijian ini di persembahkan. Sedangkan pijian ini sendiri berisi 2 buah kelapa, 2 buah telur, minyak dan rempah-rempah.

2. Kikiran
Kikiran merupakan salah satu prosesi adat meratakan gigi dengan mengunakan alat tertentu. Biasanya prosesi adat ini disebut ngosokan dalam adat karang bayan. Ngosokan ini sendiri biasanya merupakan acara yang di rangkai pada cara rowah atau gawe beleq di desa Karang bayan tersebut.

Jadi akulturasi budaya dan adat hindu masih sangat kental di Lombok dan ini membuktikan bahwa toleransi beragama sangat kuat sekali. Bahkan saling memberikan apresiasi sendiri terhadap acara adat yang di lakukan.